Sabtu, 20 Agustus 2011

Wa Ina La Gena, Nenek dan Dongeng Gunu Panggilia

ADA kisah dongeng romantis sekaligus pula dramatis yang dahulu orang-orang tua selalu ini diceritakan pada anak cucu mereka. Perihal cinta segitiga antara Gunung Panggilia, Wacu no Tongka dan Gunung Kobaeno. Saya rindu sekali ingin kembali mendengar kisah dongeng yang melegenda ini. Waktu dulu masih kecil, kisah ini menjadi salah satu yang paling saya sukai selain kisah La Ndoke-Ndoke bae Lakapo-Kapoluka, atau cerita Paapaando. Jika telah dipangkuan kakek saya selalu merengek minta ini diceritakan. tapi kini mau rengek kemana, mau mangku ke siapa, kakek saya yang baik hati itu telah tiada, dipanggil Tuhan kepangkuannya.

Wa Uma Za Ali juga masih saja terus sibuk dengan urusannya sendiri, padahal dari pagi sekali saya telah duduk di gode-gode tempat biasa kami bercerita, telah hampir seminggu saya menunggunya di situ, tak juga nampak keluar, kalaupun keluar, selalu saja beliau ada kerja lain yang tak memungkinkan semuanya bisa berjalan. Maka saya berusaha mengingat-ingat kakek nenek yang dahulu biasa berdongeng. Jalan pikiran saya menerawang ke masa lalu, silih berganti wajah-wajah kakek nenek orang-orang dahulu berseliweran muncul di balik batok kepala saya. Terawang saya kemudian mentok, tertumbuk pada satu sosok perempuan renta tua sekali, rambutnya telah memutih semua, raut muka dan seluruh kulit di badannya meluruh oleh keriput, melepuh kusam sekali. Pada bawah dua matanya seperti ada kantong menggantung berair, tapi sorot matanya masih tajam, nampak kuat tegar sekali. Ia berjalan membungkuk, seperti hendak mencium tanah. Wa Ina La Gena. Ya nenek tua renta itu Wa Ina La Gena ia biasa dipanggil, atau juga Wa Ina Wampooga. Mungkin seumuran dengan Wa Uma Za Ali. Hanya dialah yang bisa kembali menceritakan ini, dia saja. Maka tanpa membuang waktu, saya meninggalkan gode-gode Wa Uma Za Ali, bergegas menujui rumah Wa Ina La Gena.


***

Jarak rumah saya kerumah Wa Ina La Gena tak melebihi seratus meter, bahkan jika berdiri di serambi, atap bumbungan rumahnya dapat jelas kelihatan. Sangat sederhana, dari daun rumbia atapnya itu. Dulu, sebelum usia mengambil kuat tenaganya, ia bekerja sebagai penjual ikan pindang ke pedalaman Muna. Saya ingat sekali ia begitu lihai melompat menaiki truk, mobil yang biasa mengangkut dan membawa mereka ke pasar-pasar tradisional pedalaman Muna. Ia gesit naik dan melompat turun di truk itu tanpa minta dibantu kenek atau orang-orang semobil yang sekerja dan senasib dengan nya. Padahal sarung meliliti badannya. Ia sigap, meloncat bak bajing yang lihai gesit sekali. tapi kini itu tinggallah saja kenangan. Telah tua ia kini, tak lagi kuat, tak lagi lihai, umur dan usia mengambil lihai dan tenaga kekuatannya itu.

Wa Ina La Gena menjadi salah satu sosok paling saya kagumi di antara banyak orang tua lainnya di Gu. Di usianya yang telah uzur dan diumurya yang renta itu ia masih saja terus beraktifitas, sibuk menenggelamkan diri dalam kerja meneruskan hidup. Ia seperti menantang usia, biarpun telah mengambil tenaga kekuatannya, biarpun telah melumerkan kulit dagingnya dalam keriput susut yang kusut, tapi tetap saja tak bisa mengambil semangatnya, tak bisa menyusutkan niat keinginannya. Pada sorot mata tatapannya, semangat dan niat keinginan itu nampak berkobar menyala-nyala. Dari nenek tua renta ini, saya belajar menghikmati hidup, belajar tangguh, belajar kuat.

Saya memang sudah dekat mengenal dengan Wa ina La Gena ini sejak dari kecil dahulu. Awal dan sebab yang mendekatkan kami juga soal sepele saja. Saya ingat, dulu anaknya yang bernama Wampooga pernah menangis sambil bergulingan di tanah depan rumahnya karena saya jahili menarik dan merampas diam-diam gula-gula di mulut nya. Bagaimana pula tidak saya gemas merampasnya, ia seperti sengaja membuat ngiler saya (nofomea-mea kanau). Maka kubiarkan saja ia fomea-mea itu, sambil menunggu ia lengah. Saya berpura-pura seperti tak tertarik, pura-pura bercuek tak memperhatikan, padahal ujung mata saya tak pernah lepas mengikutinya. Diam sembunyi-sembunyi mengamati terus-terus. Pun liur lidah saya sudah melumer pengen menjilati dan merasai pula gula-gula itu. Maka ketika Emak nya berteriak memanggilnya; “Mpoogae…” kurasai inilah kesempatan saya menarik gula-gula itu dari mulutnya. Tapi Wampooga tak mendengar, seperti bercuek dan sibuk menjilati itu gula-gula terus-terus. Dengan setengah teriak Wa Ina La Gena memanggil lagi Wa Mpooga “O Mpoogaeee……!!!” Kulihat Wa Mpooga tersentak kaget, serta merta menyahut cepat sekali “OOOOOOOOO……!!!” dalam menyahut itu kulihat mulutnya menganga lebar sekali. Dan seperti, kilat tangan saya gesit cepat sekali sigap menyambar tangkai gula-gula pada mulutnya yang telah menganga melebar itu, menariknya keluar, dan seperti sudah diduga gula-gula bertangkai yang manis menggemaskan itu telah berpindah tempat, dari mulut Wa Mpooga ke tangan saya. Hehehe….

Saya lari sekuatnya sembari menggenggam pula gula-gula itu sekuatnya. Saya girang bukan kepalang mendapatkan gula-gula itu. Tak peduli pada Wa Mpooga yang mengguling dirinya di tanah (noparasese), menangis (nehansa-hansa) sambil berteriak keras sekali “Kagola-golaku, Kagola-golaku, Yo Kagola-golakua” dalam menangis itu telunjuknya menuding-nuding saya yang berlari menjauh, terus jauh. Menghilangkan diri dari jangkauan pandangannya. Saya berlari membelok, melalui lorong-lorong diantara rumah Wa Uma La Zaaki, terus ke Wa Uma Doodone, melewati Wa Uma Za Ali, berputar membelok ke rumah Wa Uma Riaasi, melewati Wa Ina Wa Rosu, terus berlari, melewati rumahnya La Neke, tepat di muka rumahnya La Neke itu saya berhenti, mengatur napas yang terengah. Pun memang tujuan saya di situ, di depan rumahnya La Neke kakaknya Laara itu. Rumah nya Wa Uma Lamutu. Di kolong rumah Wa Uma La Mutu itu, atau orang-orang mengenalnya juga Wa Uma La MbaE, memang menjadi tempat menonton video. Dulu tempat menonton video hanya disitu itu saja, satu-satunya di Gu, tarif masuknya juga murah meriah, hanya 100 rupiah sekali masuk. Biasanya siang sebelum film diputar, Lambololo akan berkeliling mengumumkan film yang akan diputar sore harinya, dan disore itu film yang akan diputar Pandangan Pertama judulnya, pemeran utamanya A Rafiq dan Santi. Dan saya merasai menonton A Rafiq sembari menjilati gula-gula itu kenikmatan tiada tara, selama menonton itu mata saya nyaris tak berkedip, apalagi ketika A Rafiq menyanyi sambil meliuk menggoyangkan pinggul bokongnya, wah..,saya jadi lupa, lupa semuanya, termasuk lupa telah menjahili Wampooga yang mungkin kini dia masih mengguling dirinya di tanah (nekansese), menangis sejadi-jadinya (nehansa-hansa).

***

Pagi-pagi sekali Wa ina La Gena telah di rumah, mengadukan ulah nakal saya itu pada nenek saya. Saya tak berani keluar, hanya mengintip dan mendengar-dengar saja mereka dari balik dinding jelajah kamar rumah kami. Tak seperti saya dengan Wa Mpooga yang suka ribut dan berkelahi. Kedua nenek itu tampak akur dekat sekali. Mereka bercerita dan mengadukan ulah nakal kami dengan tertawa-tawa, sesekali saya dengar nenek saya menyeringai, bahkan Wa ina La Gena sampai harus terpingkal-pingkal. Ketika Wa ina La Gena berpamit pulang, nenek saya malah memesan dibelikan gambir dan sirih jika ke Lasehao, atau Wakuru. Nenek saya memang memakan sirih, itulah tak ada satu giginya pun yang tanggal, tak ada yang ompong. Jika senyum akan kelihatan giginya berbaris rapat-rapat seperti biji jagung. Dan hal paling saya suka adalah menumbukkan gambir sirih itu. Tak pernah itu abai saya lakukan.

Selepas Wa ina La Gena pergi. Kudengar nenek memanggil-manggil saya. Dan saya telah tahu bahwa ini tidak panggilan biasa, tapi panggilan untuk di marahi. Maka begitu panggilan ketiga kudengar, seperti maling ketangkap saya berjalan keluar dari kamar, merunduk lemas melihat ke lantai saja. Saya takut bertatap pandang dengan nenek. Dan dalam duduk yang menunduk itu saya dimarahi habis-habisan. Tak ada bisa kubuat selain hanya menunduk saja terus-terus, sambil mencubiti lantai, air mata saya bertitik, membulir jatuh bergulung-gulung menyeberangi pipi saya. Saya menangis, dan selalu begitu setiap kali nenek memarahi. Tapi nenek tak pernah pula membiarkan saya menangis. Ia tak kuat jika melihat saya menangis. Maka ketika lantai basah berair, ia tahu itu karena air dari mata saya. Seperti hendak melindungi, Ia mendekat dan mendekap saya kuat sekali, menenggelamkan saya dalam hangat pelukannya. Kurasai pada bahu saya seperti ada air bertitik. Ia menangis pula rupanya. Menjadilah kami menangis bersamaan. Dalam menangis itu, nenek terkasih yang saya sayangi ini membisiki saya lembut lemah sekali. Begini katanya:

“Ngkolee..,dhaa dhaanomo mina dhako waina dhako wa uma inia sajia dhokaasi asi. Ahoboikoini sao kaeta amu, koe konae aolampikoa. Insawoodi kamokula ini kamoosiao bae yanaini noanga kabala’a. ndo omo insawodi kamokula sao sumansarano ka uhiya, koe bae isimiincu kaana-naiya. Aicumo kaasi koe kapaculia, fekata fotohoeya lalomua. Fewaumiu kaana-nai, insawoodi kamokula nekona-kona’a. jadi taetaa bae taodhai nae lima miu nelate. Sikola fekataata, sio-siomo aula ta ala’a naeahoangko sala, nama angko kalalesa……”

Kata-kata nenek itu serupa godam turun menubruk batok kepala saya. dan bukannya diam, saya malah bertambah-tambah menangis. Jika tadinya hanya sedu sedan saja, sekali ini menaik jadi meraung. Tapi nenek mendiamkan dengan mengelus elus punggung badan dan kepala saya. Merapatkan peluk dan berkata: “Sudah, sudah. Kala mekadiu lao. Pagie bae aemuini aokalampia, maiyao toha pogolu la, tadhua molodomoa bela mina mekadiua?. Yehe wa’a, maka meala dhoi nae pandano kasoho icu sao meoliao kagola-gola”. Saya bangkit berdiri, bergegas mandi, ke Oeno Bonto, mandi menyiram diri sebelum matahari menaik terlalu tinggi.

Ah nenek ini. Kau seperti oase di tengah gurun. Seperti cahaya di tengah gelap. Saya tak henti mengucap syukur kepada Tuhan Maha Pengasih yang telah memberi umur yang panjang sehingga bisa merasai sayang kasihmu. Dua puluh tujuh tahun usia umurku, dan kata-kata itu masih terkenang-kenang, menjadi spirit yang membangunkan. Menjadi nasehat yang menyemangati. Awalnya saya memaki Tuhan karena Ia terlampau dini memanggil ayah ibu ku. Tapi rupanya benar, selalu ada yang baik dari balik buruk rupa musibah. Yang tidak kita ketahui diketahui Tuhan. Dia mengambil Ayah Ibuku, tapi memberi kau Nek. Memberi kau yang penyayang dan baik hati. Dalam hati saya sungguh mengucap janji, tak nanti kubuat kecewa, akan saya sekolah setingginya sehingga kau bangga. Dulu selalu kau bilang setiap kali menerima rapor di SD: “Kau akan jadi orang besar Nak!”, dan kau sumringah melepas senyum melihat nilai di sana berderet bergantian antara sembilan dan delapan. Kau girang memeluk saya, mengelus batok kepala saya. membisiki; “Kau cerdas seperti kakek mu Nak. Rangkingmu 1 di kelas”. Dipuji-puji begitu itu saya ikut pula girang bukan kepalang, menghambur diri dalam peluk nenek. Dalam berpeluk itu ia membisiki: “Kau harus sekolah Nak, harus terus sekolah. Cukuplah saja kita tak punya uang, cukuplah saja kita miskin harta, tak boleh pula miskin ilmu. Tuhan ini memang selalu adil, melebihkan sesuatu sertamerta mengikutkan pula kekurangan pada sesuatu itu. Kau lihat ada banyak orang kaya berduit di sana, tapi tak satu anaknya pun bersekolah? Kau tak boleh berkecil hati Nak teruslah semangat!”.

Dan kini dua puluh tujuh tahun usia umurku, saya pulang dari pengembaraan menimba ilmu. Melayari rimba tanah Jawa. Nenek berdiri menyambut di muka pintu tempat dulu saya dia lepas pergi. Tampak dia renta, mengeriput kulit muka wajahnya dan seperti tak kuat berdiri, tapi memaksakan terus tegak menyambut datangku. Tak ada memang kegirangan bagi seorang ibu, selain kegirangan mendapatkan anaknya kembali pulang. Dia menangis hingga bergetar kaki badan nya. terisak sebelum sampai saya memeluknya. Saya menyepatkan langkah sehingga bisa segera memeluknya. Dalam berpeluk itu ia tak lagi terisak, tangisnya menaik menjadi sesenggukan. Pada pundak saya kubiarkan dagunya bersandar sambil menangis itu, dan saya merasai itu bukan tangis berduka, tapi tangis berbahagia. Berkata “Tiga malam ini saya bermimpi ayah ibumu datang, rupanya kau yang datang Nak. Manu-manu hato-hato dhua’a feeoleomoinia satai nae lambu, gaha’a isincu sao humatonoa. Kau banyak berubah Nak, badan mu kini tinggi serupa bapak mu. Sudah, simpan tasmu di pojok kamar tengah sana. Pergilah mandi dan ziarahi makam ibu bapak mu. Kunjungilah mereka sebelum matahari tenggelam membenam diri. Sepertinya tak beda nenek, mereka berdua itu merinduimu pula”. Seperti bebek yang menurut, saya bergegas masuk ke kamar yang dulu tempat saya mengintip nenek dan Wa ina La Gena tertawa-tawa lepas. Menyimpan tas disitu dan ke sumur mandi menyiram diri.

*** 

Pagi sekali. Saya telah duduk berhadap-hadapan dengan Wa ina La Gena. Nampak dia semangat antusias sekali. Memulai selapis-selapis berkisah, begini katanya: “Dalam dongeng Gunung Panggilia, Wacu no Tongka, dan Gunung Kobaeno, Gunung Panggilia dan Wacu no Tongka dipersonifikasi sebagai dua lelaki perkasa yang bersaing merebutkan Si wanita rupawan ayu jelita cantik sekali; Gunung kobaeno namanya. Maka kemudian menghamparlah kisah kasih romantis yang tragis dan dramatis itu.

Wa Ina La Gena meneruskan;
Dahulu, ketika semua mahluk hidup dapat bicara dan berkata-kata, terkisahlah dua gunung perkasa; Gunung panggilia dengan Wacu no Tongka. Konon keduanya bersaudara sekandung. Pada mula-mula mereka hidup, sungguh amat dekat keduanya. Tak ada selisih tak ada bersalah paham. Rukun saja selalu saban hari. Petaka mula-mula hadir ketika keduanya berselisih paham karena diam-diam menaruh hati pada Gunung Kobaeno. Gunung yang menjulang molek, montok jelita sekali. Gunung ini seperti tiba-tiba menaik dari dasar lautan, menjulang dan memamer indah molek tubuhnya, membuat silau dan menggetarkan hati Gunung Panggilia dan Wacu no Tongka. Kedua bersaudara ini seperti terbawa dibuai mimpi dan segera saja rasa kagum menyerang mereka. Di kejauhan mereka melihat gunung itu dalam takjub. Dan menjadilah laut teluk Lasongko labir rindu yang membentang.

Tidak seperti yang tampak kini, dahulu Wacu no Tongka adalah gunung yang menjulang kokoh, bahkan tinggi badanya melewati tinggi gunung panggilia. Gunung Panggilia memang tak menjulang badanya, seperti merebah duduk. Itulah kelihatan tak tinggi. Tempat berdiamnya saja yang tinggi sehingga membantunya dapat melihat alam yang menghampar dikejauhan. Gunung Panggilia, meskipun ia miskin tinggi tapi di sana kaya air. Sungai banyak mengalir. Juga tumbuhan membiak subur sekali. Jika kini ke Gunung Panggilia pada bagian timur melewati Wakatepi terus lurus ke arah Labueya kita akan menyaksikan kubangan-kubangan seperti bekas aliran sungai. Orang-orang tua mempercayai bahwa memang dahulu itu adalah alur air mengalir di situ. Maka Gunung Panggilia kemudian menjadi daerah makmur yang kaya raya.

Wacu no Tongka bernasib lain sebaliknya. Tak semujur dan seberuntung kakak sedarahnya itu. Wacu no Tongka adalah gunung yang miskin air. Tanahnya membatu, serupa cadas tajam mengeras. Jika kemarau datang tanahnya akan menggundul retak-retak, mengering tandus sekali, tumbuhan enggan membiak disitu, kecuali belukar saja, tumbuh tak peduli karena ia mengambil makan dari tanah tandus kering yang membatu itu. Maka suplay air dan buah mengalir dari gunung Panggilia sebagai bantuan dan kewajiban sesaudara. Pun Wacu no Tongka membalasi itu dengan mengirim Ikan, Kerang, Tiram (kawondu) dan hasil laut lainnya ke Gunung Panggilia. Sebelum Gunung Kobaeno menampak muncul, kedua saudara sedarah ini hidup mereka rukun akur berbaik-baik saja.

Ketika dulu masih kecil, di Wacu no Tongka itu biasa kami bermandi air laut, sembari membakar ikan dan jagung (dekatataampo). Bahkan karena riang, kami tak peduli takut, dari bongkah batu setinggi kira-kira sepuluh meter kami biasa melompat terjun memakai gaya bebas. Itu dulu ketika masih kanak-kanak, membayangkannya kini seperti tak percaya dan mengulum senyum sendiri, bahwa hal-hal gila begitu bisa dan biasa dengan santai kami lakukan.

Gunung Kobaeno itu adalah gadis manis ayu jelita yang juga menaruh hati rupanya pada Wacu no Tongka. Maka dalam diam-diam mereka berkasih-kasihan, memadu satu hati mereka dalam sembunyi-sembunyi yang menyiksa. Itu terpaksa mereka lakukan untuk menjaga hati dan hubungan baik mereka dengan Gunung Panggilia, kakak sekandungan Wacu no Tongka. Tapi sekuat apapun dibungkus, cinta selalu saja mencari jalannya keluar. Dan lama-lama gelagat tak beres mulai terendus, dicium hidung Gunung Panggilia. Suatu kali ia menguji Wacu no Tongka, menyuruhnya sedikit merunduk agar ia dapat melihat jelas seluruh badan Gunung Kobaeno yang aduhai itu. Tapi Wacu no Tongka berkeras tak mau merunduk tunduk, sekalipun Gunung Panggilia telah berkali-kali memintanya.

Pembangkangan Wacu no Tongka itu dirasai Gunung Panggilia sebagai penghianatan dan pelecehan seorang adik pada kakaknya. Amarahnya kemudian membuncah meluap-luap, merah padam pada muka matanya. Ia merasa dihina tak lagi dihormati oleh adik sekandungannya sendiri. Maka untuk kesekian kali. Gunung Panggilia suaranya meninggi, dengan mengancam ia menghardik Wacu no Tongka untuk merunduk agar ia dapat melihat molek cantiknya Gunung Kobaeno;
“Merunduk kau Wacu no Tongka, jangan menghalangi pandanganku!”
“Tidak, saya tak akan melakukan itu” jawab Wacu no Tongka
“Kau masih saja terus membangkang, menjadilah adik yang baik!”
“Ayo merunduklah, Jika tidak, kau tak kuberi lagi air”
“Kau yang harusnya menjadilah kakak yang baik Gunung Panggilia, dia memilih aku, sudah memilih aku, bukan kau!” sergah Wacu no Tongka

“Oh, jadi begitu. Di belakang saya kalian bermain-main. Berkasih-kasihan tanpa saya tahu? Lancang sekali kau sebagai adik Wacu no Tongka. Kau tahu dengan berlaku begitu kau telah menginjak kehormatan ku sebagai kakak sedarahmu?

Kau tahu harusnya sayalah lebih layak dan berhak mendapatkan dia, saya lebih kakak dari kau. Pun saya lebih kaya raya pula. Saya punya air dan buah yang melimpah di sini, kau apa. Punya apa kau, tanah mu tandus kering berbatu, tak ada buah yang tumbuh membiak di situ. Hanya belukar saja, mau kau beri makan belukar?”

Wacu no Tongka hilang takut segannya. Merasai kakak sekandungannya itu telah keterlaluan. Egois memaksakan kehendak. Tak lagi beringsut, ia tegak berdiri seperti hendak menantang, berkata; “Bahkan jika harus matipun saya tak mau merunduk tunduk. Jika saja kau dengan baik-baik bicara, saya mungkin bisa berbesar hati dan ikhlas memberikannya pada kau. Tapi dengan begini ini, kau kasar sekali bahkan pada saya yang sedarahmu sendiri, apalagi pada perempuan yang tak kau sedarah? Tidak, Tidak, Dia terlalu lembut untuk kau kasari. Dia terlalu lemah untuk kau kerasi. Kau tak layak buat dia!” kata Wacu no Tongka setengah teriak.

Gunu Panggilia melompat turun, seperti hendak menyepak Wacu no Tongka. Berkata; “Berani kau mengatai saya begitu kini? Lupa kau waktu dulu kecil kau kuselamatkan? Tanah mu tandus kerontang, kalau tidak kubantu air, mati kau kelaparan. Lupa kau pada semua itu. Lancang kamu kini Wa Cuno Tongka!”

Wacu no Tongka menyeringai dalam tangis, berkata; “Kau memanggil saya sedarahmu tapi menyebut-nyebut apa yang sudah kau lakukan. Tidakkah itu sudah kewajiban mu? Pantaskah seorang saudara menyebut-nyebut apa yang sudah dilakukan dan diberikannya untuk saudara sedarahnya sendiri? Saudara macam apapula kau itu Gunung Panggilia? Apa saya pernah meminta-minta? Bahkan sekalipun telah berpuluh hari tak minum tak makan saya tak pula pernah meminta. Tuhan masih berbaik hati tak membiarkan ciptaan-Nya mati. Ia menyiapkan embun dan air yang menetes di batu pada gua-gua laut kami, dan kami rasai itu telah cukup. Kami tidak seserakah kau Gunu Panggilia, biarpun berlimpah air dan segala kebutuhan lainnya tapi tak pernah merasai cukup, tak pernah berpuas diri”

Amarah Gunu Panggilia memuncak di ubun-ubun. Mukanya seperti kepiting rebus, merah bukan main. Berkata “Hentikan Wacu no Tongka. Hentikan! Kau telah banyak berkata-kata. Menghina-hina seperti saja tak sesaudara kita ini!!!” Teriaknya dalam amarah. Ia berlari mengambil bedilnya, mengeker dan membidikkan nya tepat di batok kepala Wacu no Tongka. Picu pelontar nya ia suluh dan meluncurlah peluru bedil itu, berdesir menderu cepat sekali. Tapi Wacu no Tongka sigap. Ia serupa kilat merunduk cepat sekali sehingga peluru bedil itu tak mengenainya. Menyasar menujui Gunung Kobaeno. Dan…., BUMMMM!!! Tak meleset. Peluru bedil itu berdentum besar keras sekali, tepat mengenai ujung puncak Gunung Kobaeno, membuatnya hancur berpuing-puing. Dalam panik yang linglung, Gunung Kobaeno mengangkat pula keluar bedil meriam simpanannya. Ia suluh picu pelontarnya. Maka muncratlah itu peluru dari moncong bedil meriam itu. Meluncur berderu keras sekali. Sasaran tujuan nya adalah Gunung Panggilia. Tapi peluru bedil meriam Gunung Kobaena itu malah sasar meleset, menubruk tepat kekasihnya sendiri; Wacu No Tongka. Maka berpuinglah itu Wacu no Tongka, hancur lantak berserak ke laut.

***

Dari kampung Gu kini, puncak Gunung Kobaeno tampak menganga terbelah. Konon itu disebabkan oleh tembakan menyasar dari bedil Gunung Panggilia yang murka. Di Gunung Panggilia kini banyak pula kita dapati Kawondu (tiram), konon katanya itu kiriman Wacu no Tongka sebagai balas kiriman air dari gunung Panggilia. Pun Wacu no Tongka (batu yang terbongkah) kini tak lagi mewujud gunung sebagaimana dahulu itu karena hancur oleh peluru bedil meriam Gunung Kobaeno. Bongkahanya jatuh berserak ke laut sebagaimana yang kini kita saksikan.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar